Bidadari Dunia


Tentang sebuah rasa yang tersampaikan lewat perhatian dan ketulusan
Tentang rasa sayang yang tak mau melihat aku terluka
Tentang cinta yang menjelma menjadi sebuah rasa ingin selalu menjaga

Rasa sayang dan rasa cinta yang teramat sangat kepada sang buah hati
Kepada sang penerus perjuangan dambaan hati
Terus terpatri di hati hingga nanti
Hingga jiwa itu tak lagi sanggup melihat pagi

Semenjak kuliah di jogja, waktu untuk bertemu keluarga hanya disaat liburan saja.
Kusempatkan untuk berbincang berdua bersama sang bidadari dunia.
Saat itu aku baru sampai di rumah,
“kok kamu kurusan nduk?”
“iya bu, banyak tugas. Tapi gak papa yang penting kan sehat”

Sejenak kusempatkan untuk berkaca.
Dengan nada anak-anak kumerengek “Bu, kok dimukaku jadi tumbuh jerawaaat??” persis seperti aduan anak kecil yang habis di cubit temannya.
“Duh Gusti, seharusnya saya saja ya yang jerawatan, jangan anakku. biar saya saja, yang sudah tuaa”.

Mendengar kata-kata itu, perlahan air mata menetes tak bisa terbendung.
Betapa inginnya Ia supaya aku tak menderita.
Betapa inginnya Ia agar segala bebanku dialihkan kepundaknya.
Syukurlaah, isakan tangis itu tak sampai terdengar ditelinganya.
Tak bisa kumembayangkan betapa sedihnya Ia setiap kali kuteteskan air mata.

Tak berlebihan, jika Ia ku panggil  Bidadari Dunia.
IBU

-Kisah dari seorang teman-

Belajar dari Rumput


Image

Kadang kita sering menyepelekan tumbuhan tingkat rendah bernama rumput.
Ya rumput. Rumput dengan akar serabutnya.
Rumput dengan ukuran tubuhnya yang pendek.
Rumput dengan posisinya yang sangat rendah.
Rumput yang selalu diinjak-injak.

Tapi tahukah kamu?
Rumput dengan ukuran tubuhnya yang pendek.
Rumput dengan akarnya yang serabut.
Rumput yang selalu diinjak-injak.
Ternyata rumput jauh lebih kuat dari pada pohon yang menjulang tinggi ke langit.
Ketika angin badai menerpa, rumput jauh lebih elegen dalam menghadapi padai tersebut.
Disaat pohon yang tinggi tumbang karena badai, rumput masih gagah berdiri menyongsong esok.
Rumput hanya menggeliat lembut karena badai.
Sedangkan sang pohon yang tinggi bergoyang hebat karena badai.

Sebagai manusia yang berakal, tentulah kita dapat belajar dari sang rumput.
Walaupun semua keterbatasan ada pada dirinya,
semua kelemahan menghampiri tubuhnya,
namun, lihatlah bagaimana sang rumput menghadapi sebuah badai yang luar biasa hebat.
Dia tenang, menggunakan segala keterbatasan sebagai kekuatan untuk menghadapinya.

Seperti halnya manusia, untuk apa mempunyai banyak kelebihan,
Ketika menghadapi sebuah masalah yang besar, dia tak bisa melewatinya.
Tapi bukan berarti lantas kita menginginkan sebuah kekurangan.
Namun bagi temen-temen yang mungkin merasa sudah banyak kekurangan dalam dirinya.
Kemudian bisa menjadikan kekurangan tersebut sebagai kelebihan untuk menghadapi masalah.
Untuk menerima segala yang terjadi dalam dirinya dengan lapang dada.
Untuk merasa cukup dengan apa yang telah sang pencipta ciptakan untuk kita.
Karena kita tidak pernah tau apa yang terbaik bagi kita.
Bisa jadi apa yang kita anggap baik, ternyata bukan yang terbaik menurutNya.
Dan bisa jadi pula, apa yang kita anggap buruk, itulah yang terbaik menurutNya.

Karena pada hakekatnya, yang lebih tau tentang suatu hal adalah dia yang menciptakan hal tersebut.
Begitu pula dengan kita, ada yang jauh lebih tahu segalanya. Dialah Sang Pencipta Kita.

Cinta kata Anna


Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar

Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri

Meskipun lidahku telah mampu menguraikan

Namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih tenang

Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta

Dalam menguraikan cinta akal berbaring tak berdaya

Bagaikan keledai yang terbaring dalam lumpur

Cinta sajalah yang menerangkan cinta dan percintaan

Puisi ini adalah sepenggal dialog yang ada didalam film Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman Elshirazi.

Dibacakan oleh Anna Althafunnisa (oki setiana dewi) pemeran utama film tersebut ketika menjawa sebuah pertanyaan “apa itu cinta” dari salah seorang penonton yang hadir dalam acara bedah buku.

Dari puisi tersebut, tersirat makna yang dalam mengenai arti sebuah cinta.

cinta itu indah, cinta itu adalah anugerah.

cinta yang harus senantiasa dijaga, agar tidak jatuh pada seorang yang salah.

cinta,

jika cinta, diam saja, simpan saja, karena itu jauh lebih mulia, hingga semua indah pada waktunya.

Galau Akademik


Ternyata bukan hanya masalah cinta saja yang bisa membuat galau, masalah akademik pun tidak luput dari sasaran penyakit remaja yang sedang naik daun ini.
kalau saya boleh mengartikan sendiri galau itu adalah sebuah perasaan bingung mau milih apa, mau berbuat apa, bahkan bingung mau berfikir apa, gara-gara kurang motivasi karena kurangnya pengetauan tentang suatu hal.

nah, seperti yang sedang saya alami saat ini, galau akademik!
benar sekali, masalah akademik bagi temen-temen yang masih kuliah tentunya sering terjadi. kok bisa? ya bisa laah,
nih, beberapa hari yang lalu saya galau untuk memilih berapa sks yang harus saya ambil mengingat banyaknya kegiatan yang akan dihadapi pada semester ini (re:4), apalagi mata kuliah elektif nya banyak yang gak menarik. jumlah mata kuliah wajib 17 sks, maksimal sks yang bisa saya ambil ada 24 sks. rencanya mau ambil 19 sks aja dengan tambahan 1 matakuliah elektif. tapi sayang, kayaknya 21 masih bisa deh. ya itulah saya, si melankolis yang ribet dan lama kalau ambil keputusan. harus mempertimbangkan ini itu, harus tanya kesini kesitu. kan ribet. nah, lama nih ceritanya buat memutuskan mengingat semester 4 ini organisasi harus full di urus, KL (kuliah lapangan) harus di persipkan dengan matang, kepikiran buat jadi asisten, praktikum banyak dll. karena saya punya Allah yang maha pengasih, maka saya curhat tuh sama Allah,
alhasil nih, ambil 19 sks aja deh, bismillah..
dan saya pun dengan bangga menuju ruang DPA.
Tok, tok ,tok “permisi pak, maaf mengganggu….” belum selese bicara nih bapaknya bilang “iya mengganggu sekali, ada apa?” doeeeeeeengggg… speechless deh saya. “mau krs-an pak, bapak ada waktu jam berapa?” setelah berdiskusi sebentar dengan dosen lain yang ada di ruanganya, akhirnya beliau menjawab “iya, setelah jam 3!”

*ceritanya udah jam 3 nih*
sampai di ruangan dosen tersebut, ternyata sudah ada kaka angkatan yang juga sedang krs-an. akhirnya aku ikhlas menunggu di depan ruangan.
ku pikir-pikir lagi, semoga ini pilihan terbaik (menurutku).

setelah beberapa menit, masuklah saya ke ruang dosen tersebut. tidak seperti saat bertemu di awal tadi, raut muka beliau lebih ramah. setelah duduk, beliau melihat-lihat kartu hasil studi saya, beliau berkomentar. “kok cuma ambil 19 sks?”. “iya pak, semester ini akan lebih sibuk dari semester biasanya”. “sibuk ngapain emang? kalau cuma 19 sks saya gak mau tanda tangan. soalnya sayang, IP segini cuma ambil 19 sks”. deg!
dieeem..
saya nya masih dieeemmm..
setelah itu saya keluarkan alasan-asalan saya. semuanyaaa.
“tetep 19 sks ni?” beliau tanya.
“iya pak, insya Allah untuk semester ini cukup 19”.
“ya sudah, saya tidak mau tanda tangan kalo gitu
wah ni dosen main paksa nihh..
kemudian dosen tersebut mengemukakan alasan-alasan kenapa saya harus ambil sks lebih dari 19. kupikir-pikir. ku timbang-timbang. masih dieem.
setelah sekian lama, saya ingat. saya pernah curhat sama Allah nih, tapi kita tidak tahu jawaban Allah itu diuangkapkan lewat siapa dan dimana. kayaknya ini emang jalan yang Allah beri untuk saya deh..
setelah lama diem, akhirnyaa..
“bismillah” bisik saya dalam hati.

“oke pak, saya ambil 21 sks”
setelah itu saya lihat raut kemenangan tergurat di wajah DPA saya..
“anda menang pak” batin saya.. hehe
setelah sampai rumah, saya pikir-pikir memang ini yang terbaik untuk saya.
akhirnya, saya ucapkan terimakasih pak.

“karena setiap do’a pasti akan dijawab, dan setiap petunjuk akan terlihat”

Tak Kenal, Maka Kenalan laah!


Alhamdulillah…

jadilah blog keduaku ini, setelah blog pertama yang kucampakkan begitu saja sewaktu SMA dulu. maafkan akuu T.T

Okeee, kenalan dulu ya, tak kenal maka ta’aruf

Kala itu, jum’at sore yang indah diiringi dengan gemericik air hujan yang tak kunjung henti (aseek). 1933, adalah tahun bersejarah bagi orang-orang di kampung Wuni, Banjarnegara. sungguh kampung yang kecil, tapi indah. Mereka menanti-nantikan kedatangan seorang bayi yang luar biasa, yang akan membawa perubahan di negeri ini (alay si) tapi aamiin

Seorang ibu dengan suara seraknya masih menjerit kesakitan, berjuang melahirkan  anak pertamanya di rumahnya sendiri. “ayooo nak, keluarlaah, engkau sangat dinanti di keluarga ini”. ibu itu menangis masih menahan rasa sakitnya. Penuh harap Ia berdo’a agar anak tersebut muncul ke dunia dengan aman. mengingat 3 kali keguguran, ibu itu terus berdo’a untuk keselamatan bayinya.

“ayoo nak, keluarlah.. keluarlah..” dan tak lama kemuadian “aaaaaaaaaaaaaaa” ibu itu pun berteriak melepaskan segala tenaganya untuk seorang bayi tercinta. “alhamdulillah” terdengar suara di balik pintu kamar. “alhamdulillah anak pertama saya lahir” seru seorang bapak dengan penuh syukur. sedangkan sang ibu masih tergeletak tak berdaya mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang masih ada. akhirnya Ia tersenyum bangga, karena telah berhasil melahirkan anak pertamanya. Tidak dengan bantuan dokter, tidak dengan bantuan siapapun, tapi oleh dirinya sendiri  (ini kuat atau emang gak ada yg mau bantu? )

sesaat kemudian bapak tersebut mengadzani dan mengiqomahi bayi cantik tersebut. lucu, imut, gendut. siapapun yang lihat pasti terbuai kecantikanya (ngarang).

detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari pun berlalu, hingga disuatu malam, tibalah bayi gendut tersebut meronta-ronta minta dikasih nama.

“gimana nduk, mau dikasih nama siapa bayi pertamamu itu?” tanya seorang lelaki tua kepada anak angkatnya. “saya belum tau pak, ini masih mencari-cari nama yang cocok”. sahut sang bapak dari bayi. “saya ingin sekali punya cucu seperti anakmu itu nduk, boleh nanti saya ikut merawatnyaa?” pinta sang lelaki tua. “waaah, boleh sekali pak, saya senang sekali mendengarnya”. “baiklah, mulai sekarang bayi ini jadi cucuku ya nduk?” . ” inggih, monggo pak”. (waduh, pasrah banget ni bapak)

anggota keluargapun mulai berkumpul di ruang tengah untuk memberikan nama terbaik untuk sang bayi. “jadi, saya memang belum ada nama yang cocok untuk bayi saya” suara bapak sang bayi memecah keheningan di ruang tengah tersebut. “yah, lalu bagaimana acara pemberian nama ini bisa berlangsung?” sahut seorang tetangga yang masih agak muda. “saya juga tidak tahu” sahut bapak sang bayi. akhirnya semua orang berbincang, berdiskusi, berdialog, mencari nama yang pas untuk sang bayi. ruang tengah pun menjadi gaduh, sampai terdengar suara seseorang dari balik jendela,di luar rumah. sepertinya orang tersebut hanya numpang lewat. “namanya DANI saja”. sontak seketika suara gaduh pun tak terdengar. “iya benar, DANI saja” sahut salah seorang tamu yang ikut acara dimalam itu. “iya DANI memang nama yang bagus” kata bapak sang bayi. dan orang yang memberi nama pun telah menghilang entah kemana. ANEH —a

“iya, DANI MARDIATI” sambung lelaki tua yang ngebet ingin menjadikan bayi tersebut menjadi cucunya. “kenapa MARDIATI?” tanya sang bapak. “nama saya kan MARDIANTO, karena bayi itu sudah jadi cucu saya, dan dia perempuan maka namanya DANI MARDIATI”

“oh, iyaa boleh boleh boleh” sahut bapak dari sang bayi.

akhirnya bayi imut, lucu, gendut tersebut dikasih nama DANI MARDIATI

dan tahukah saudara-saudara bahwa bayi tersebut adalah diriku. kyaaaa!

ALHAMDULILLAH,

begitulah sepenggal serita (anggap saja)  yang  SANGAT MENARIK

Salam kenaaaaaal🙂

cerita-cerita MENARIK selanjutnya seputar masa-masa TK, SD, SMP, SMA, hingga KULIAH, insya Allah akan saya bagi kembali agar lebih mengenal tentang diri sayaaa (sok penting) haha

semoga dapat diambil hikmahnya (saya rasa tidak ada) :p tapi saya percaya siapapun yang membaca tulisan ini adalah orang-orang yagn CERDAS dalam mengambil hikmah.

“Karena masalah itu hadir sebagai media sebuah hikmah”

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.